Meluruskan fokus pandangan

Posted: June 25, 2011 in ASAL KETIK ^_^

Ada seorang dokter memberitahu saya sebuah cerita tentang dirinya: “Suatu hari ada seekor anjing menjijikan dengan sekujur tubuhnya yang terjangkit penyakit kulit. Melihat tampangnya berjalan seperti sedang sakit, mungkin juga sudah lama sekali tidak makan. Melihat hal ini perasaan iba saya tiba-tiba muncul, lalu saya membantu mengoleskan obat dan memberi makan kepada anjing kelana tersebut.” “Keesokan hari anjing kelana tersebut datang lagi, saya juga memberikan perhatian kepada anjing itu lagi. Pada hari yang ketiga anjing itu datang lagi, kali ini saya berpikir, “Anjing tersebut datang setiap hari, tubuhnya terjangkit oleh penyakit kulit, jika dia berjalan mondar-mandir di depan pintu, bisa membuat pasien yang berobat ketakutan.” “Oleh karenanya saya mengambil sebuah tongkat untuk mengusirnya pergi. Akan tetapi kelihatannya anjing itu tidak mau pergi, terpaksa saya menggunakan tongkat untuk memukul anjing itu. Walaupun anjing itu saya pukul setiap hari, dia tetap hadir setiap hari!” Dokter itu sepertinya sadar akan sesuatu, dia lalu berkata, “Jika dibandingkan dengan anjing, sebenarnya manusia tidak sebaik anjing! Saya hanya memberi anjing itu makan selama dua hari, selanjutnya memukul dia setiap hari, tetapi dia masih bisa mengerti pernah mendapat perhatian yang sangat seksama.” “Sebaliknya bila Anda telah berbuat baik pada seseorang, asalkan pada suatu hari Anda tidak baik dengan dirinya, atau hanya berbuat sesuatu hal kecil yang tidak berkenan di dalam hatinya, dia bisa tiba-tiba memusuhi Anda, bahkan membenci Anda seumur hidup!” Sebenarnya perbedaan manifestasi antara manusia dan anjing, kunci permasalahannya terletak pada “fokus persepsi”. Anjing memandang permasalahan, mungkin hanya melihat kebaikan orang lain kepada dirinya, dan mengabaikan ketidak baikan orang lain. Sebaliknya, manusia acapkali meletakkan fokus pandangannya pada hal-hal ketidak baikan orang lain kepada dirinya, sedang perhatian yang diberikan oleh orang lain acapkali ia tahu tetapi seolah tidak nampak atau menganggapnya sebagai suatu keharusan, yang pada akhirnya selalu menyisakan nama buruk yaitu “tidak tahu membalas budi”. Sebenarnya jika hanya memfokuskan pandangan kita pada ketidak baikan orang lain, akan membuat diri kita sendiri hidup dalam ketidak nyamanan, muram tak puas serta hidup dalam kutukan, karena setiap orang mempunyai kehidupan mereka masing-masing, tidak mungkin bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya dan selamanya kepada orang lain, apalagi tindakan orang lain belum tentu bisa semuanya sesuai dengan kehendak Anda. Demi menghindari kemalangan dalam perkawinan, ahli perkawinan mengemukakan tindakan pencegahan sebagai berikut, “Sebelum menikah harus membuka mata lebar-lebar. Setelah menikah harus menutup sebelah mata”. Saya rasa “sebelum menikah harus membuka mata lebar-lebar”, perkataan ini sangat tepat sekali, tidak peduli lelaki atau perempuan, sebelum menikah memang perlu membuka mata dengan lebar, harus mempunyai semboyan “tidak akan mempersunting jika bukan si jelita, dan tidak akan menikah jika bukan sarjana”. Tetapi “setelah menikah harus tutup sebelah mata” keefektifan perkataan ini sangat meragukan sekali! Mengapa demikian? Biarkanlah saya bercerita. Dahulu sewaktu saya masih mengajar di sebuah sekolah kejuruan. Pendidikan sekolah terhadap murid-muridnya sangat ketat sekali. Ujian tengah semester maupun ujian akhir semester seluruh murid sekolah dikumpulkan untuk ujian bersama, guru pengawas ujian diserahkan kepada guru lain yang tidak mengajar di kelas itu. Setiap kali ketika giliran saya menjadi pengawas, saya biasanya selalu bergurau dengan murid-murid. Sambil membagi soal ujian, saya berkata pada murid, “Kalian hari ini sangatlah beruntung! Karena saya yang jadi pengawas.” Murid-murid akan bertanya,“Mengapa?” Saya akan menjawab, “Karena saya belajar ilmu kejiwaan, sangat paham sekali dengan kebutuhan khusus para murid! Sebentar lagi jika kalian membutuhkan kebutuhan khusus, saya akan tutup sebelah mata!” Menunggu setelah suara tawa murid-murid reda, saya menambahkan sepatah kata, “Tetapi kalian harus perhatikan! Jangan sampai terlihat oleh sebelah mata saya yang masih terbuka!” Sangat nyata sekali “menutup sebelah mata” tidak bisa menyelesaikan masalah.Ahli perkawinan itu seharusnya menyarankan: “Sebelum menikah, setelah menikah harus membuka mata dengan lebar, tetapi fokus pandangannya harus berbeda. Sebelum menikah, harus melihat dengan jelas dan seksama apakah calon Anda mempunyai keanehan yang tidak dapat Anda terima, misalkan seperti judi, menghisap rokok dan lain sebagainya.” “Jika calon Anda mempunyai kebiasaan-kebiasaan jelek yang tidak bisa Anda terima, maka segera hentikan jalinan kasih tersebut, jangan sampai Anda teruskan ke jenjang perkawinan. Setelah menikah, harus memfokuskan pandangan Anda untuk mencari kelebihan dari pasangan Anda, berikanlah pujian serta tepuk tangan untuk pasangan Anda, dengan demikian Anda telah menyalakan lampu kehidupan bagi diri Anda sendiri.” Dahulu saya seringkali berkata pada murid: “Mengapa waktu berpacaran begitu indah? Karena sewaktu berpacaran masing-masing pihak sedang giat mencari kelebihan pihak lain dan memberikan pujian. Mengapa perkawinan adalah makam bagi pacaran? Karena setelah menikah, pada umumnya masing-masing pihak terus menerus mencari kekurangan pihak lain dan memberikan kritikan. Bukankah kebahagiaan atau tragedi kehidupan, ditentukan oleh fokus kesadaran kita? Orang yang riang dan penuh harapan memfokuskan pandangan mereka pada pemandangan yang indah, maka di dalam kegelapan malam yang sangat panjang, dia bisa memusatkan perhatian ke depan atau kepada seberkas sinar fajar yang akan tiba, bersorak gembira demi kehadiran mereka. Orang yang pesimis memfokuskan pandangan mereka pada sisi kejelekan dari kehidupan. Pada hari yang amat cerah, dia bisa ketakutan atau gelisah hanya karena segumpal awan kecil yang berada di pinggiran langit, mengawatirkan kedatangan hujan lebat. Jika meletakkan fokus pandangan pada kehidupan jauh ke depan, itulah yang disebut dengan tujuan dari kehidupan. Di dalam segala kehidupan, ada orang yang mendambakan dan mengejar nama dan keuntungan, ada orang yang mencari dan menaruh hati pada cinta kasih yang sehidup semati, ada orang yang tidak henti-hentinya berjuang untuk mendatangkan kebahagiaan bagi umat manusia, ingin merubah dunia fana menjadi surga. Ada pula orang yang merasakan dunia fana bagai lautan kesengsaraan dan berkultivasi dengan sangat rajin, berharap suatu hari nanti bisa mencapai nirwana. Fokus pandangan kehidupan yang berbeda, hasil akhir dari kehidupan mereka juga berbeda bagaikan langit dan bumi! Orang dulu mengatakan, “Emas juga hampa, perak juga hampa, setelah meninggal apakah mereka bisa dibawa? Nama juga kosong, keuntungan juga kosong, setelah mati hanyalah seonggok tanah sepi yang berada di pinggir kota. Suami juga kosong isteri juga kosong, di perjalanan akhirat mungkin tidak akan saling berjumpa.” Manusia zaman sekarang sangat sibuk sekali, hanya demi mengejar nama, keuntungan dan perasaan, tetapi ketika mereka tua nanti, saat mengenang kembali intrik mengintrik dan tipu menipu di masa lalu, yang pada akhirnya adalah sia-sia belaka. Ketika bangun dari mimpi di tengah malam, tak terelakkan untuk diam-diam berpikir di dalam hati: kalau begini apa arti kehidupan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s