Kisah Cinta Si Semut Kecil

Posted: June 25, 2011 in ASAL KETIK ^_^

“Aku mencintaimu.”

 

Sejenak ia terdiam mendengar ucapan makhluk hitam mungil itu. Menatapnya tak bergerak. Lalu sejenak jadi dua jenak, lalu tiga jenak, empat jenak dan pada jenak kelima, meledaklah tawanya. Semut kecil itu merengut kesal mendengar tawa si macan betina. Padahal ia sudah sungguh-sungguh mengerahkan seluruh keberaniannya dan menyatakan cintanya pada macan cantik pujaan hatinya.

 

“Aku serius lho!” ujarnya lagi. Si macan menghentikan tawanya, lalu berbatuk-batuk yang dibuat-buat. “Ehem. Ehem. Ehem.” Lalu ia menatap si semut kecil. Ia berusaha untuk serius, tapi tak bisa menahan rasa gelinya sehingga bibirnya terus menerus tersenyum lebar seakan mengejek.

 

“Semut, maaf ya. Kamu itu tidak sepadan buatku. Kita ini bagaikan langit dan bumi. Bulan dan matahari. Siang dan malam. Lautan dan daratan. Surga dan…”

 

“Cukup cukup cukup!” potong semut sambil menutupi kedua antenanya dengan kaki depannya. “Aku mengerti maksudmu, macanku. Aku sadar kita memang berbeda. Tapi apa cinta peduli dengan semua itu?”

 

Macan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Aneh sekali kamu ini, semut. Bukannya kamu ini diciptakan untuk mencintai ratumu, tapi kenapa kamu malah mencintai aku? Apa kautidak tahu bahwa aku ini

pemakan daging?” Macan betina itu memamerkan taringnya yang tajam.

 

Semut tertawa melihat kelakuan macan. “Macanku, alih-alih membuatku takut, kamu malah membuatku semakin terpesona padamu. Lagipula kau tidak suka daging semut kan?” Macan pun tertawa.

 

“Tentu saja. Aku harus memakan ribuan makhluk seukuranmu untuk mengenyangkanku. Yang benar saja!” Lalu macan betina itu berkata dengan hati-hati pada si semut karena kini entah kenapa ia yakin si semut tidak bercanda. “Tapi maaf ya, semut. Bagaimana pun juga, seekor betina sepertiku tentunya mencari jantan yang bisa melindungiku.

 

Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya dengan tubuh sekecil itu? Apa kau ingat? Bukankah malah aku yang melindungimu waktu itu.”

 

Semut pun terdiam mendengar kata-kata macan. Memang seminggu yang lalu, dirinya hampir mati tenggelam karena jatuh dari pohon tempat tinggalnya. Untunglah ia terjatuh tepat di atas daun yang mengambang di atas permukaan sungai, tapi celakanya kaki-kaki mungilnya hanya difungsikan untuk mencari makan, bukan mendayung. Jadilah si semut terancam akan mati kelaparan bila saja tidak ada si macan betina yang kebetulan lewat menyelamatkannya dari sungai itu. Itulah perjumpaan pertama mereka.

 

“Tapi aku yakin. Aku bisa melindungimu, macanku.” Macan betina hanya mengangkat bahu.

 

“Kuharap begitu, semut. Jika memang begitu adanya, aku bersedia menjadi kekasihmu.” Semut pun girang mendengarnya. Di hari- hari selanjutnya, ia selalu mengawasi kemana pun si macan betina pergi.

 

Dengan penuh tekad, akan melindungi macan. Macan pergi ke kiri, semut ikut ke kiri. Macan ke kanan, semut ikut ke kanan dan begitu seterusnya.

 

Hingga suatu hari, macan kesal dengan tingkah si semut. “Berhentilah mengikutiku! Kau membuatku kesal!

 

Lagi pula sudah ada macan jantan yang menyukaiku, kau bisa membuat semuanya jadi berantakan!” Semut sangat terpukul mendengarnya. Dengan penuh rasa kepedihan di hati, ia memenuhi permintaan si macan.

 

Bila memang pujaan hatinya bahagia tanpa dirinya, maka ia tidak akan keberatan bila harus menderita. Hari demi hari berlalu. Namun semut tidak dapat melupakan cintanya pada macan betina yang cantik itu.

 

Kerinduannya yang sudah menumpuk hampir meledak di dadanya, hingga akhirnya tak tertahan itu yang mendorongnya untuk keluar dari sarangnya dan pergi ke pinggir sungai, tempat macan itu biasa berada. Tidak usahlah ia menyapa. Cukup baginya untuk hanya melihat pujaan hatinya dari jauh. Karena itu betapa girang hatinya begitu melihat si macan betina sedang duduk di tempat biasa mereka berbincang dulu.

 

Tetapi selanjutnya, semut tercengang begitu menyadari bukan hanya mereka berdua saja yang ada di tempat itu. Sosok raksasa ribuan lipat kali besarnya dari dirinya membuat tubuhnya terasa dingin. Raksasa itu mirip dengan monyet, tetapi lebih besar dan lebih kejam. Ia tahu dari ratunya, bahwa raksasa itu bernama manusia.Dan manusia selalu membawa benda seperti batang kayu panjang yang bisa meneriakkan maut pada penghuni hutan yang dibidiknya. Sekarang manusia itu sedang mengarahkan batang kayu itu pada macan betina yang sedang duduk-duduk di pinggir sungai. Macan tidak menyadari akan adanya ancaman maut di dekatnya.

 

Tanpa pikir panjang, semut berlari sekencang mungkin menghampiri kaki putih berbulu manusia itu dan menggigit sekencang- kencangnya. Ia hanyalah semut pekerja dan tidak memiliki gigi setajam semut petarung, tapi rupanya cukup untuk membuat si manusia berteriak kesakitan.

 

Semut pun lega karena teriakan sekencang itu pasti akan menyadarkan macan akan keberadaan si manusia. Namun malang menimpanya, sebuah tepukan menyakitkan mendarat di tubuhnya. “Semut sialan!” umpat manusia.

 

Kemudian manusia itu menoleh untuk melihat macan buruannya. betapa kagetnya ia begitu melihat ternyata macan buruannya itu sudah berada di dekatnya dan dengan ganas menerkamnya. Manusia berteriak ketakutan. Dengan sedikit pergumulan, ia pun berhasil membebaskan diri dari cengkeraman si macan dan mengambil langkah seribu membawa serta batang kayunya.

 

Sesudah itu, macan menemukan semut yang mencintainya sedang terbaring di atas dedaunan kering dalam keadaan menganaskan. Kakinya hanya tinggal dua, antenanya patah dan tubuhnya nyaris remuk. Namun rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk mengucapkan salam perpisahan bagi pujaan hatinya.

 

“Jangan.. menangis, macanku. Kau lihat?Aku.. bisa melindungimu dengan tubuh kecilku.” Kemudian lepaslah nyawanya. Macan betina itu meraung penuh kesedihan dan penyesalan. Ia sendiri merindukan hari-hari bersama si semut kecil.

 

Hari-hari yang jauh lebih berharga, dibandingkan hari-hari yang dihabiskannya belakangan ini bersama seekor macan jantan kuat namun membosankan. Bila saja bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah meragukan kesungguhan hati si semut. Mengapa ia bisa dibutakan oleh keadaan fisik? Tapi semuanya sudah terlambat, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s